Di Jalan Raya Malam Ini Aku Melihat Demo Spontan

Malam itu: Dari Jalan Raya ke Kerumunan

Jam menunjukkan sekitar 21:30 ketika aku melintasi jalan raya utama menuju stasiun. Lampu lalu lintas berkedip, suara mesin mobil membentuk ritme yang biasanya menenangkan. Aku ingat memikirkan laporan yang harus kukirim keesokan harinya dan secangkir kopi yang sudah mendingin di tas kerja. Lalu, tanpa peringatan, suara teriakan memecah keheningan—awal dari sesuatu yang sama sekali tidak kusebutkan dalam rencana malam itu.

Di tikungan, sekelompok orang berkumpul di tengah ruas jalan. Awalnya aku kira hanya protes kecil, poster sederhana dan beberapa orang yang berorasi. Tapi dalam hitungan menit jumlahnya bertambah, kendaraan berhenti, dan suasana berubah menjadi tegang. Ada kombinasi kemarahan, kebingungan, dan rasa solidaritas yang tiba-tiba memenuhi udara. Jantungku berdegup cepat. “Tetap tenang,” aku berbisik pada diri sendiri, tapi naluri jurnalistik sekaligus pengalaman lama di lapangan membuatku berdiri sebentar, mengamati lebih dekat.

Di Tengah Kerumunan: Kebingungan, Ketakutan, dan Keputusan

Aku tidak datang untuk membuat berita malam itu. Namun selama sepuluh tahun menulis dan meliput berbagai peristiwa publik, aku terbiasa membaca situasi: siapa yang memimpin, bagaimana massa bergerak, di mana titik keluar terdekat. Sosok di tengah dengan megafon tampak muda, suaranya patah namun tegas. Di belakangnya beberapa orang memegang spanduk. Ada juga yang hanya menonton, wajah-wajah terpancar rasa ingin tahu dan kecemasan sekaligus.

Ketegangan meningkat ketika suara sirene jauh terdengar. Mata banyak orang mengarah ke jalan lain. Di situ aku merasakan dua dorongan berbeda: tetap untuk mencatat dan memahami; atau pergi untuk keselamatan. Pilihanku? Aku memutuskan berjalan sedikit menjauh untuk mengamati dari jarak aman. Aku ingin tahu apakah aksi ini akan bubar cepat atau berubah menjadi sesuatu yang memblokir jalan utama sepenuhnya.

Satu momen kecil yang masih membekas: seorang ibu mencoba menenangkan anaknya yang menangis, “Tenang, Nak, kita lewat sini saja,” katanya sambil menarik tangan kecil itu ke pinggir trotoar. Dialog itu menghentikanku sejenak—protes politik bertemu dengan realitas keluarga yang terjebak. Emosi itu mengingatkanku pada banyak liputan lapangan di mana manusia biasa seringkali adalah korban pertama dari kegaduhan publik.

Apa yang Kulakukan dan Mengapa

Pengalaman mengajar aku beberapa aturan praktis. Pertama, selalu lindungi dirimu. Aku mengamankan barang-barang, menutup kamera ponsel, dan mengingat pintu keluar terdekat. Kedua, jangan menambah ketegangan. Aku menghindari terlibat dalam orasi atau debat keras—cukup menjadi saksi yang siap membantu jika diperlukan. Ketiga, bantu orang yang kebingungan. Ada seorang kakek yang tampak kesulitan menyeberang; aku membantunya ke trotoar yang lebih aman, sambil menanyakan alamat tujuannya dan arah transportasi.

Transportasi menjadi isu nyata saat demo berlangsung. Banyak ojek online dan taksi menolak masuk, rute ditutup, dan orang-orang panik mencari cara pulang. Aku pernah mengalami kejadian serupa saat liputan; pengalaman itu mengajarkanku untuk selalu punya cadangan rencana. Aku kemudian membuka aplikasi pencarian taksi yang familiar dan, setelah beberapa percobaan, memilih layanan yang responsif. Jika kamu dalam situasi seperti ini, saran praktis: simpan beberapa aplikasi transportasi, dan kenal alternatif transport lokal. Saat itu, aku juga sempat mengingat satu layanan yang dulu membantu rekan penulis tur lapangan—ftctaxicab—sebagai opsi bila aplikasi mainstream tidak responsif.

Hasil, Refleksi, dan Pelajaran yang Kubawa Pulang

Aksi selesai sekitar satu jam kemudian, bukan karena kekerasan, melainkan karena hujan ringan yang memecah konsentrasi. Orang-orang bubar, beberapa tertawa gugup, beberapa masih berdebat. Aku berjalan pulang dengan kepala penuh catatan mental: detail visual, dialog, warna plakat, dan reaksi spontan orang. Lebih penting lagi, aku membawa pulang pelajaran sederhana tapi mahal—persiapan membuat perbedaan.

Aku tidak ingin membuat mimpi buruk dari pengalaman itu; yang kubagikan adalah panduan praktis berdasarkan apa yang kulihat: perhatikan lingkungan, identifikasi jalur evakuasi, bantu yang rentan, simpan kontak transportasi alternatif, dan dokumentasikan bila aman. Jangan paksakan diri untuk “jadi pahlawan” ketika situasi berpotensi berbahaya. Kadang kontribusi terbaik adalah memastikan keselamatan diri dan orang lain serta melaporkan fakta dengan akurat.

Terakhir, pengalaman malam itu mengingatkanku akan satu hal yang sering kutuliskan dalam karya dan bimbinganku: kejadian spontan di ruang publik adalah cermin masyarakat—keras, gaduh, namun tersusun dari pribadi-pribadi yang punya cerita. Jika kamu suatu saat menemukan dirimu di jalan yang sama, bawa kepedulian, kesadaran, dan sedikit persiapan. Itu cukup untuk membuat perbedaan kecil yang aman dan berarti.